Nasa Berencana Membuat Makanan Dari Napas Astronot

Nasa berencana mengembangkan teknologi pangan untuk astronot. Nasa terus berinovasi dalam pengembangan teknologi untuk mendukung eksplorasi luar angkasa jangka panjang. Salah satu tantangan utama dalam misi-misi antariksa adalah menyediakan makanan yang cukup dan bergizi bagi astronot selama perjalanan yang panjang.

Makanan menjadi kebutuhan vital bagi astronot yang melakukan perjalanan antariksa. Dalam kondisi lingkungan luar angkasa yang keras dan terbatasnya pasokan makanan segar, para ilmuwan dan insinyur di NASA terus berupaya mencari cara baru untuk memenuhi kebutuhan gizi astronot.

NASA Gelar Kompetisi “Deep Space Food Challenge”

Untuk mengatasi masalah pemberian makan astronot dalam misi berkepanjangan, NASA memulai Deep Space Food Challenge pada Januari 2021, dengan meminta perusahaan untuk mengusulkan cara baru dalam mengembangkan makanan yang berkelanjutan untuk misi masa depan.

Sekitar 200 perusahaan ikut serta—yang kemudian diseleksi menjadi 11 tim pada Januari 2023 sebagai bagian dari fase 2, di mana delapan tim AS masing-masing diberi pendanaan sebesar $20.000 dan tiga tim internasional tambahan juga diakui.

Pada tanggal 19 Mei, NASA akan mengumumkan tim-tim yang akan melanjutkan ke fase final kontes ini, dengan beberapa pemenang akan diumumkan pada April 2024 setelah melalui pengujian lebih terperinci terhadap proposal mereka.

Salah satu perusahaan mengambil pendekatan yang sangat tidak biasa untuk tugas ini. Air Company, yang berbasis di New York dan salah satu finalis AS, merancang sistem yang dapat menggunakan karbon dioksida yang dikeluarkan oleh astronot di luar angkasa untuk menghasilkan alkohol, yang kemudian dapat digunakan untuk menumbuhkan makanan yang dapat dikonsumsi. Perusahaan tersebut sebelumnya mengembangkan alkohol dari CO2 untuk bahan bakar pesawat dan parfum.

Stafford Sheehan, salah satu pendiri dan kepala teknologi Air Company, mengatakan bahwa makanan ini terbuat dari udara. Proses pembuatannya dimulai dari pengambilan CO2, lalu CO2 kemudian digabungkan dengan air dan listrik dan dilanjutkan dengan pembuatan protein.

Proses ini menghasilkan alkohol yang kemudian dapat diberikan kepada ragi, menghasilkan “sesuatu yang dapat dimakan,” kata Sheehan. Untuk kompetisi ini, mereka menciptakan protein shake yang pada dasarnya mirip dengan shake yang terbuat dari seitan, pengganti daging nabati untuk vegan.

“Rasanya sebenarnya lumayan enak,” kata Sheehan. Bagi astronot di luar angkasa, sistem ini akan berfermentasi terus-menerus untuk menyediakan makanan. “Kapan pun Anda ingin minum space protein shake, Anda membuatnya dari ragi yang sedang tumbuh ini,” kata Sheehan.

Mari Bergabung Bersama Kami di Kampus NU Terbesar di Indonesia

Klik Disini untuk pendaftaran mahasiswa baru unisma