Wanita Pertama ke Luar Angkasa dari Arab Saudi

Wanita pertama ke luar angkasa dari Arab Saudi bernama Rayyanah Barnawi. Rayyanah Barnawi adalah astronot yang mewakili kerajaan Arab Saudi dan bertugas sebagai specialis misi Ax-2.

Rayyanah merupakan seorang peneliti biomedis dengan pengalaman hampir satu dekade dalam penelitian sel induk kanker. Kemudian dia menjadi spesialis yang mewakili penelitian ilmiah Arab Saudi sebagai astronot swasta kedua dalam Axiom Space ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Lahir pada bulan September 1988 di Jeddah, Arab Saudi, Barnawi memiliki banyak gelar dalam ilmu biomedis. Dia memegang gelar Master Ilmu Biomedis dari Universitas Alfaisal di Arab Saudi, dan Sarjana Ilmu Biomedis dari Universitas Otago di Selandia Baru. Barnawi akan mengukir sejarah sebagai astronot pertama wanita pertama ke luar angkasa dari Arab Saudi.

Barnawi telah menghabiskan lebih dari sembilan tahun sebagai teknisi laboratorium penelitian untuk Program Rekayasa Ulang Sel Punca dan Jaringan di Rumah Sakit Spesialis dan Pusat Penlitian King Faisal yang Berkolasi di Riyadh, Arab Saudi. Selama Ax-2, dia akan memusatkan perhatiannya pada penelitianya pada penelitian sel punca dan kanker payudara.

Barnawi adalah penggemar alam luar dan olahraga yang berpartisipasi dalam petualangan di seluruh dunia. Pada tahun 2014, ia mengikuti pelatihan menerbangkan wingsuit di Dubai. Pada tahun 2022, dia mengikuti pelatihan centrifuge dan hipoksia di Arab Saudi. Kemudian Rayyanah Barnawi berhasil mencatat namanya dalam sejarah, sebagai wanita Arab pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa, tepatnya ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), Minggu 21 Mei 2023.

Dia terbang bersama tiga astronaut lainnya menggunakan roket SpaceX menuju Stasiun Luar Angkasa (ISS). Peneliti kanker payudara itu terbang ditemani dengan pilot pesawat tempur Ali al-Qarni yang merupakan seorang pria. Keduanya berangkat disponsori oleh pemerintah Arab Saudi. Dua anggota lainnya adalah mantan astronaut NASA, Peggy Whitson, serta pebisnis sekaligus pembalap dan pilot asal AS, John Shoffner. Whitson sendiri memegang rekor astronaut dengan durasi kumulatif di ISS terlama, mencapai 665 hari.

Mereka akan sampai di ISS pada Senin (22/5) setelah 17 jam perjalanan menggunakan kapsul Dragon dan roket Falcon 9 dari SpaceX. Astronaut ini akan menjalankan misi sekitar satu minggu hingga kemudian mendarat kembali di lepas pantai Florida, AS.

Pasangan ini adalah yang pertama dari negara mereka yang ke luar angkasa sejak seorang pangeran Saudi melakukan perjalanan dengan pesawat ulang-alik Discovery pada 1985. Ketika sampai, mereka akan disambut di stasiun oleh seorang astronaut dari Uni Emirat Arab, Sultan al-Neyadi.

Pasangan ini adalah yang pertama dari negara mereka yang ke luar angkasa sejak seorang pangeran Saudi melakukan perjalanan dengan pesawat ulang-alik Discovery pada 1985. Ketika sampai, mereka akan disambut di stasiun oleh seorang astronaut dari Uni Emirat Arab, Sultan al-Neyadi.

Ini bukanlah misi NASA, melaikan peluncuran komersial perusahaan luar angkasa swasta Axiom yang bermitra dengan NASA untuk mengirim astronaut ke ISS. Tujuannya adalah campuran menyediakan sewa kursi ISS untuk pariwisata dan penelitian swasta.

Ini adalah salah satu strategi NASA dan mitra ISS lainnya untuk memaksimalkan fungsi ISS dari segi ventura. Pada tahun lalu Axiom meluncurkan tiga pebisnis dan satu pensiunan astronaut NASA untuk misi selama 2 minggu di ISS.

Astronaut yang dibawa Axiom memang menjalankan durasi lebih singkat daripada astronaut tipikal NASA, yang bisa 3 hingga 6 bulan.

Namun mereka tidak hanya berpariwisata. Di atas stasiun luar angkasa yang mengorbit di ketinggian 400 km dari Bumi tersebut, astronaut Axiom menjalankan misi penelitian sains. Mereka juga telah membawa perlengkapan riset dari Bumi bersama dengan kapsul mereka.

Pendaftaran Mahasiswa UNISMA